Sepenggal kisah tentang perjalanan menggapai puncak tertinggi di Kepulauan Nusa Tenggara dan Gunung tertinggi ke-3 di Indonesia.
Perjuangan dimulai di Jakarta
7 Agustus 2007
Hari diawali seperti rutinitas biasanya. Bangun pagi, shalat subuh, trus berangkat kantor. Yang agak beda adalah hari itu aku PC jam 14.00 buat berangkat ke Denpasar. 14.45 WIB sampai dirumah langsung mandi, makan sambil nonton TV karena packing udah kelar jadi tinggal berangkat aja. Ternyata dapat konfirmasi dari Air Asia pesawat delayed jam 20.40 WIB dari semula jam 19.50 WIB.
Jam 16.05 WIB berangkat dari rumah menuju Rawamangun naek KWK 02, karena ngetem lama di Pangkalan Jati jadinya sampe Rawamangun jam 16.45 WIB dan ternyata Bus Damri angkutan ke bandara gak ada, padahal bisaanya ngetem banyak bener. What’s the matter? Ternyata di Jembatan Tiga (deket Pluit) ada kebakaran besar hingga jalan diatasnya macet.
Akhirnya karena perasaan senasib kali ya, di Rawamangun dapet kenalan, namanya Karleen (penumpang Lion tujuan Medan), dan Widi (Pramugari Adam Air yang kena shiff). Kebetulan kami bertiga belum saling kenal trus langsung aja bertiga panggil taxi TL (tarif lama) buat ke bandara, wah ternyata parah betul macetnya sampai-sampai perjalanan dari rawamangun ke bandara memakan waktu 5 jam, sungguh rekor yang sangat mencengangkan.
Didalam taxi terjadilah obrolan yang sangat mengasikkan hingga perjalanan 5 jam yang harus kulalui menjadi tidak membosankan. Jam 20.00 WIB Widi dapat telpon dari Adam Air ternyata pesawatnya dah Boarding, terus pramugarinya diganti ama flight dari Jogja jadinya Widi Shiffnya reroute untuk besok, makanya dia minta turun di Slipi aja, jadinya kami keluar tol lewat Slipi-Grogol-Rawa Bokor dan ternyata lancaar abissss…. Tapi tetep aja sampai bandara jam 22.09 WIB. Tapi Alhamdulillah Delayed ampe jam 22.40 WIB jadi kita bisa terus ke Denpasar.
Perjuangan Belum Berakhir
Setelah tau kalo delay, langsung ku telpon mbak Risna yang ternyata masih dibelakangku, lega rasanya kena delay, baru sekali ini aku bener-bener bersyukur karena delay. Setibanya di terminal 1A langsung ku lari buat check in dan ternya tiketku ketinggalan di taxi. Ampun . . . . akhirnya setelah ngobrol-ngobrol bentar ama attendant darat Air Asia dan nyebutin booking code plus KTP akhirnya jam 22.14 WIB bisa check in.
Unfortunatelly pintu buat bagasi udah tutup padahal bawa Carrier 19 kglengkap dengan tenda dan ubo rampe nya, dan setelah bayar Airport Tax kulihat di layar ternyata Air Asia statusnya udah boarding, wah panic jadinya, akhirnya langsung aku dikasih tanda bagasi suruh nempelin sendiri di tas n langsung ke Gate 7 buat Boarding, “bagasi ntar aja masukinnya pas mau naik kabin” kata petugas boarding nya. Langsung aku lari-lari kaya orang gila di bandara, untung masih bisa masuk dan gak lama Mbak Risna, Mas Henri ama Ilham datang. Huuh.. . . . cape deh. . . .
Finally 22.50 WIB take off from Cengkareng. Dan setelah di dalam pesawat ternyata baru sadar aku kalo aku lapeeerrrrr…… banget, mana makanan di bagasi semua lagi…. Aduh… nunggu Pramugari Jualan aja kali ya, tapi ternyata karena pesawat berguncang-guncang karena turbelensi maka gak ada acara jualan-jualan gitu. Waduh bisa kelaparan aku ini. Untung di tas pinggang kutemukan Silverqueen, langsung aja tak lahap tanpa ragu lagi.
8 Agustus 2007
01.20 WITA sampailah kami berempat di Ngurah Rai, Bali dan langsung telpon Mas Hadi yang udah sampai disana duluan. Ternyata mereka masih terjebak macet di Legian, jadinya ya nunggu lagi deh.
01.45 WITA akhirnya mereka bertiga dating dan langsung masukin barang ke mobil n berangkat ke Padang Bay. Padang Bay sebenarnya lumayan jauh dari Denpasar, tapi karena pas malem jalanan lumayan sepi jadi Mas Anom bisa ngebut dan sampe di padang Bay jam 02.45 WITA, langsung turunin barang dan beli tiket ferry buat jam 03.00 WITA, tapi karena truk yang mau masuk banyak, ngatur tempat and bla bla bla membuat keberangkatan ditunda sampai jam 03.45 WITA (Indonesia banget gak sih?).
Suasana kapal yang lengang (karena jam keberangkatan yang super pagi) membuat kami lekuasa buat tidur di atas kapal. Baru mendapatkan suasana yang PW buat tidur, aku terbangun karena ABK nyetel lagu-lagu dugem gak jelas yang bikin gak bisa tidur lagi. Saat membuka mata aku takjub oleh pemandangan di Selat Lombok. Gugusan karang dan gosong disebelah selatan, lautan nan bening, nelayan dengan perahu cadiknya, mentari pagi yang mengintip di balik Gunung Rinjani dengan sinarnya yang keemasan plus burung-burung camar yang mencari ikan di jaring-jaring nelayan dan dinginnya angin laut pagi hari.
Sarapan Pop mie terasa lebih mantap dengan segelas Nescafe hangat dan disuguhi pemandangan yang extremely wonderfull, dinikamati sambil ngobrol-ngobrol asik seputar delay dan kemacetan tol kemarin.
08.45 WITA kapal merapat di dermaga, jangkar diturunkan dan sampailah kita di Pelabuhan Lembar. Lombok here i come . . . .
Di parkir pelabuhan telah menunggu mobil + sopir yang disewa buat nganterin muter-muter sampai ke Sembalun Lawang. Tapi lapar boss….. akhirnya diputuskan untuk makan dulu, yang pas ya yang khas dari Lombok, tak lain tak bukan pastinya adalah Ayam Taliwang. Menurut rekomendasi dari pak sopir, yang mantep adalah yang di Taliwang Irama, Mataram dan kesanalah kami jam 09.30 WITA. Pokoknya Recommended lah menunya, apalagi Pelencing Kangkung dan Es kopyornya bener-bener yummy. . .
Setelah makan kenyang dan istirahat cukup jam 10.45 WITA perjalanan dilanjutkan menuju rumah Mang Ichine di Selong, Lombok Timur. Dengan laju kendaraan yang lumayan kenceng tapi sayang shock belakang rusak jadinya yang duduk dibelakang kaya aku berasa banget di pantat kaya naik bajaj.
12.05 WITA sampai di Rumah Mang Ichine di Selong, rumah yang cukup asri dan adem dengan banyak mangga di halaman depan dan belakang. Masuk ke rumah melihat kasur nganggur di depan TV langsung aja tiduran sambil minum es, cerita-cerita ngalor ngidul gak jelas dan antri mandi. Yang jadi topik utama pembicaraan adalah penemuan 7 orang yang meninggal di dekat danau segara anak belum lama ini. Mulai dari Hypothermia, Perlengkapan tidak standard dll.
Memang dalam naik gunung Safety procedure is must be . . . istilah lainnya safety first lah ya. Cek dulu semua peralatan pribadi (mulai dari jaket, rain coat, polar, sleeping bag, obat-obat pribadi, sepatu tracking, gaiter, senter, dll) juga peralatan kelompok ( tenda, trangia, matras, dll) serta jangan lupa logistic harus mencukupi. Intinya gimana kita gak kehujanan saat hujan , kedinginan saat malem, dan selalu kenyang dan nyaman.
Setelah mandi dll berangkatlah kami dari rumah Mang Ichine jam 14.15 WITA. Perjalanan menuju Sembalun via Masbagik (jangan salah, banyak yang kira ini nama orang lo. . ha..ha..ha..) sekalian beli Baterai dan jemput Bang Bengkok. Setelah siip dengan belanjaan dan peralatan, perjalanan dilanjutkan menuju Sembalun melewati hutan dan jalanan yang teramat sangat mengerikan melewati kabut tebal dan jurang melengkapi pantat yang dah panas karena shock LGX yang dah rusak. Ampun dah………
Setelah melewati jalan yang cukup menegangkan akhirnya sampailah di Desa Sembalaun Bumbung dengan pemandangan latar belakang pegunungan yang keren abis, suasana pedesaan dengan hilir mudik muda mudi di sore hari bikin suasana tambah adem. Setelah Sembalun Bumbung, jam 15.45 sampailah di Basecamp Sembalun Lawang, langsung registrasi dan makan, biar nanti kuat jalannya.
16.50 WITA start dari basecamp Sembalun Lawang, dari sini tim sudah komplit, 10 orang. Perjalanan menuju Pos I tidak melalui pintu gerbang Taman Nasional, Untuk menghemat waktu, maka perjalanan diawalai dari Barak Nao, sekitar 2 km kearah barat dari basecamp. Perjalanan diawali dengan melintas pematang di ladang-ladang penduduk yang dipenuhi sayuran yang ijo royo-royo kemudian diteruskan dengan padang sabana nan luas, lahan yang banyak digunakan untuk ternak sapi, kaya di Amerika lengkap dengan cowboy dan sapi-sapi yang berlarian bebas. Melewati padang sabana yang luas dengan pemandangan sekitar yang mempesona, gugusan bukit yang berjajar rapi serta sapi-sapi yang berlarian bebas. Berasa kaya di dunia lain pokoknya. Perjalanan terus dilanjutkan meski senja telah beranjak dan malam telah datang, Alat penerangan mulai dikeluarkan, sambil terus berjalan dan sesekali terhenti karena kotoran sapi yang masih banyak ditemui di jalan. Tak berapa lama senterku jatuh dan langsung mati, wah parah betul sampai-sampai tak benerin gak bisa juga, akhirnya aku berjalan diantara dua orang yang bawa senter biar aman.
Diselingi kabut yang cair menjadi titik-titik embun yang lembut akhirnya sampailah di POS I jam 19.00 WITA. Disana sudah ada yang nge-camp nyaman banget sambil nyalain api unggun dan bikin pan cake, wah enak banget ya kayanya bikin laper aja. Ternyata si empunya dome adalah orang London, dia keluar dan ngobrol-ngobrol bareng tentang pemanasan global, dan banjir di negaranya yang entah mengapa kok dateng tiba-tiba. Sambil ngobrol sesekali kubenerin senterku yang ternyata dah pecah dan bener-benar gak bisa dipakai.
Puas break, 19.25 brangkat lagi melanjutkan perjalanan. Dengan suasana yang gak jauh beda ama perjalanan dari basecamp ke POS I akhirnya jam 19.45 sampailah di POS II, break bentar trus bagi-bagi tugas deh, ada yang masak, ambil air, rapiin tempat dan ada yang diriin tenda. Setelah semua beres barulah makan malam plus Nescafe and biscuit. Setelah kenyang barulah tidur. . .zz..zz..zz..
9 Agustus 2007
Bangun euy bangun. . . . setelah semaleman tidur nyenyak (meski sesekali kedengeran juga dengkuran Kak Hadi, suaranya mirip orang gergaji kayu gitu grrzzz…grzzz..zzz..), tapi giliran keluar tenda kok sepi banget, yang dah bangun Cuma aku, Bang Ichine, ama Bang Bengkok. Yang laen pada kemana nih?? Udah jam 06.45 masih pada molor aja.
Brrr… brr.. dingin juga pagi-pagi gini, setelah shalat subuh n cuci muka langsung aja kuambil trangia dan masak air, eh ternyata yang laen pada nimbrung. Bikin kopi panas plus biscuit dimakan diatas jembatan sambil menikmati sabana luas di depan mata, tapi gak ada sapinya, mungkin masih pada tidur kali ya. Abis itu bikin nasi goreng ala sajiku dan berjemur lagi. . . sambil ngobrol-ngobrol seputar jembatan, Danau Segara Anak dan mitos-mitos orang sasak terkait Gunung Rinjani.
08.30 belum juga ada tanda-tanda dari Kak Hadi, Mbak Risna dan Ilham bangun, wah terpaksa nih harus bangunin dengan paksa, ya gimana lagi daripada gak dapet sunset di pelawangan.
Setelah semuanya bangun dan sarapan,cuci muka dan tak lupa pake sun block, gak tanggung-tanggung pakainya SPF 30 buat muka dan SPF 15 buat tangan (meski akhirnya tetep gosong juga), lalu packing dan 09.36 berangkat dari POS II menuju POS III dengan tanjakan yang lebih “dramatis” daripada track sebelumnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.40 dan sampailah kami di POS III, di kali mati bekas lahar kami istirahat sambil makan papaya yang segarrr . . .
Pas istirahat sambil berfoto-foto ria datanglah rombongan dari atas, bule-bule dari Spanyol dan Ceko. ngobrol-ngobrol bentar dan dapet Indomie ama Masako dari mereka, ya lumayan lah buat tambahan logistik, he he he . . .
Kabut turun makin tebal, membuat tetes-tetes embun di siang bolong. Jam 11.15 WITA berangkat lagi dengan udara yang dingin dan lumayan teduh untuk berjalan. Disini ada persimpangan, yang ke kanan namanya tanjakan penyesalan (karena jalannya memutar dan zig zag macam bidang ulir pada skrup, jadi tracknya panjangg dan laaamaaaaa. . . ) sedang yang ke kiri adalah tanjakan penyiksaan, wuih. . . bener-bener cocok ama namanya bener-bener menyiksa, panjang, terjal dan gersang makanya orang sasak bilang ini tanjakan Pada Balong yang artinya “sama saja”, memang sama-sama menyesal intinya lewat kedua jalur itu. Tapi segala sesuatu dilewati dengan fun dan enjoy lah . . . jadi kalau cape yang istirahat, trus jalan lagi.
Kala itu pas lagi cape dan istirahat setelah melewati dua bukit (dan penyiksaan masih menyisakan 8 bukit lagi. Ha.. ha.. ha..) datang dari atas bule Prancis, diajak ngobrol malah diem aja. Ternya tuh bule kagak bisa ngomong Inggris, langsung aja kami ketawa ketiwi jadinya. Malah dia bilang “Ampun Mak. . “ kontan saja kami heran, untuk dikit-dikit bisa bahasa Indonesia jadi agak nyambung. Kasian juga nih bule, udah gendut, kakinya cidera, ditinggal lagi ama temen-temennya. Untung Kak Hadi bawa Counter Pain, jadi bisa sedikit meredakan pegal-pegal dikakinya.
Lanjut lagi . . . terus menuju Pelawangan Sembalun, melewati bukit demi bukit nan terjal, dan cape lagi dan istirahat lagi sambil makan semaka merah dan segar. Langsung deh muncul ucapan dari mulut Mas Wisnu : “semangka terlezat yang pernah kumakan”, waduh.. waduh ini ngigau atau memang kelelahan ya?? Tapi emang bener sih abis jalan cape, makan semangka emang segar abiss, apalagi sambil liat awan di bawah kita, waah serasa di negeri atas awan. “Momen yang bagus buat di foto” sambung Mbak Risna, langsung dia nyari Kamera Digitalnya, dan . . . gludrakkk… ternyata ketinggalan di bawah pas istirahat tadi. Waduh, kalo ilang gimana nih, padahal tadi jalur lumayan rame, banyak porter-porter lewat, tapi sudahlah . . . kalo emang rejeki pasti kembali. Tapi ternyata emang bukan rezekinya Mbak Risna, karena setelah dicari Bang Bengkok ama Mas Hen tetep aja gak ketemu. ya… mau gimana lagi.
Terus lagi jalan menuju Pelawangan, karena jalan masih cukup jauh, pokoknya keep your eyes stare at the track n never look upward, couse you’ll gonna desperate. . .
16.41 WITA, akhirnya sampailah di Pelawangan Sembalun, tampak Puncak Rinjani yang menjulang tinggi, dan Danau Segara Anak yang terhampar luas di bawah. Subhanallah . . . tak ada kata terucap melihat keindahan ini. Sambil menunggu yang lain, bersama Harun menjelajahi sekitar Pelawangan sambil mencari tempat buat shalat. Selanjutnya foto-foto lagi dan 17.18 WITA berangkat menuju camp yang berada di punggungan bukit, karena kalo bikin camp di pelawangan terlalu beresiko, karena di tempat terbuka, jadi rawan jika terkena badai.
Meski menaiki bukit tapi karena euphoria jadinya lebih semangat, apalagi jika datang di camp gak telat, kita bisa liat sunset dengan latar belakang Gunung Agung dan Semeru jika cuaca cerah, dah Alhamduliilah jam 17.45 WITA sudah samapai camp, diriin tenda (kami ber 10 pakai 3 tenda), dan melihat sunset di atas bukit dan Subhanallah . . . keren abis, gak terbayangkan di Bumi ada tempat seindah itu, sampai-sampai aku teringat lagunya Louis Armstrong yang what a wonderful world.
Setelah senja, langsung shalat and bagi-bagi tugas, ada yang masak, ada yang bikin mimun, ada ambil air, ada yang beres-beres, tapi Basri malah terkapar di tenda, kayanya sih kena engkel, jadinya harus banyak break and diurut yang pasti. Makan malam dengan menu hampir sama dengan kemaren, Daging plus orek tempe tambah tuna dan. Hmmm .yummy…
Malam yang indah dihabiskan dengan ngobrol-ngobrol sambil sesekali melongok ke langit, melihat hamparan bintang nan megah di angkasa raya, milky way , dan sesekali bintang jatuh. Memang di gunung bintang terlihat sangat banyak, jauh lebih banyak daripada di tempat lain, hal ini terutama karena tingkat polusi udara yang rendah dan cahaya lampu yang minim, jadi ya I can see clear enough to the sky and all the stars above were smiling at me. Kadang terlihat meteor yang berjatuhan meninggalkan garis-garis bercahaya di angkasa dan secepat kilat langsung berpendar. Quick, make a wish . . . berhubung besok jam 1 harus bangun buat siap-siap summit attack maka better if i take a rest earlier. Tak lupa pake headset biar gak kedengeran dengkuran Kak Hadi. He..he..he.,meski lantai tenda miring tapi gak pa pa lah, it’s okey masih bisa tidur nyenyak ini . . .
Summit Attack
10 Agustus 2007
Wake Up . . . udah jam 01.30, keluar tenda kok baru aku yang bangun sendirian, terpaksa bikin kegaduhan biar yang lain bangun juga. Sekalian ambil trangia, rebus air buat bikin energen, kopi, teh atau apa aja lah terserah ana gih . . Bikin mie juga kalo ada yang mau, atau nasgor instant plus tuna kemaren atau nasi juga ada kalo mau ama prencok khas maminya Mbak Risna yang sudah terkenal seantero Tebet (katanya sih)
Siapkan semua alat, jaket wind breaker, polar, sepatu, bekal dan minum, skebo, dan yang paling utama senter. Yang ikut muncak cuma 7 orang, Kak Hadi, Mbak Risna ama Bang Bengkok gak ikut naik. Mbak Risna sih udah pernah naik dan kapok naik lagi karena ada tanjakan yang bikin nangis-nangis katanya, kalo Kak Hadi (?????), Bang Bengkok jelas jagain tenda soalnya 3 tenda kosong mlompong kalo ditinggal ke puncak semua.
02.30 WITA setelah do’a dipimpin Mang Ichine, langsung berangkat muncak. Pertama-tama medannya mirip track dari Arcopodo ke Cemara Tunggal di Semeru, terjal dengan sedikit pepohonan sampai akhirnya di punggungan gunung sudah gak ada tanaman, yang ada hanya pasir dan kerikil, jalan yang awalnya landai di awal punggungan lama-lama menanjak dan menanjak lagi, sampai membuat desperate, bahkan Ilham sempat tak tahan dengan Siksaan itu tapi come on guys . . keep on walking, one step closer to the summit. Pokoknya intinya jangan liat atas atau depan, liat aja jalan di depanmu. Itu kuncinya biar gak frustasi. Alhamdulillah cuaca ramah dengan kami, angin cuma semilir, meski kadang agak kenceng, serasa membekukan aliran darah dan membuat tulang kaku, tak ada kabut dan langit cerah dihiasi bintang gemintang.
Tak terasa fajar telah menyingsing dengan warna jingga nan menawan, Dihiasi bulan sabit yang hampir mati, bintang lamban laun tenggelam dalam terangnya cahaya sang mentari pagi. Sinar yang terkuak dari balik cakrawala menitikkan rona-rona di tiap sisi, membuat ku tersadar bahwa ternyata kami berjalan di celah sempit diantara dua jurang yang menganga di kiri kanan jalan yang hanya menyisakan punggungan untuk dilewati selebar 2 m saja. Terjerumus ke kiri atau kanan, wallahu alam, mungkin sudah tiada.
Tampak jalan yang akan kami lalui di depan menjulang tinggi di depan dengan elevasi ampai 70 derajat. Wow sangat melelahkan dan mengerikan, dengan jalanan berpasir membuat tiga langkah maju selangkah mundur, hingga tenaga kami terkuras habis, tinggalah semangat yang tersisa, kadang nafas tersengal-sengal karena tipisnya oksigen hingga harus menghirup oksigen dari tabung. Tanjakan ini oleh pendaki diberi nama letter E, karena memang mirip huruf E. di sini lah pemandangan paling indah terlihat, danau segara anak, keseluruhan pulau lombok terlihat, Gunung Agung di Bali sampai Argopuro di Jember dan tampak pula Gunung Tambora di ujung timur, bahkan kalau udara cerah konon di ujung cakrawala terlihat Puncak Jaya nan tinggi.
We did it
07.00 WITA sampailah di Puncak Rinjani, puncak tertinggi di Nusa Tenggara, tertinggi ketiga di Indonesia 3726 mdpl, aku langsung sujud syukur. Kami tim kedua yang sampai puncak hari itu setelah kami disalip di Letter E oleh tim Uni Eropa. Saat kami tiba di puncak mereka sudah turun, saat berpapasan mereka Cuma bilang “wonderfull, great view” dan ternyata Subhanallah . . .Allahu Akbar, tak henti-hentinya ku ucapkan kata itu. Di puncak masih ada bule dari Irlandia yang masih asik take a picture, setelah mereka turun barulah kami naik, satu persatu karena puncak rinjani begitu sempit bahkan hanya muat dua orang saja.
Tentu saja kami langssung foto-foto dan make a little party dengan toblerone, catburry, dan jelly yang nikmat. Jam 07.30 WITA tim dari Malang, 3 orang (satu-satunya rombongan Indonesia selain kami yang naik lewat Sembalun) tiba di puncak, gantian donk giliran kami harus turun, karena selain sempit puncak juga rawan longsor. Belum lama jalan, ketemu lagi bule dari Spanyol, dua orang saja, kehabisan air pula, untung air kami masih cukup jadi bisa berbagi.
Perjalanan dari puncak menuju camp lebih cepat, karena kami bisa lari-lari kecil sambil berperostan di pasir yang dingin. Danau Segara Anak dan Gunung Baru Jari terlihat jelas, jadi sering banget foto-foto. Apalagi datang segerombolan kera gunung, bikin tambah semangat foto-foto. Dua jam berjalan, 09.30 WITA sampailah di camp, makanan sudah siap, istirahat bentar sambil cerita-cerita dan packing, kami langsung makan, tak lupa buah khas Masbagik, nanas nan segar. . .
10.45 WITA berangkat turun ke segara anak, melewati kaki Gunung Sangkareang, yang menurut vulkanolog, gunung inilah cikal bakal Rinjani dan merupakan gunung tertua dari rangkaian gunung di Lombok. Track yang dilalui cukup curam, maklum karena menghemat waktu kami harus lewat “jalan tol” yang lebih singkat, tidak memutar, tapi cukup curam dengan berjalan di tepi jurang. Kabut yang tebal (lebih tepat disebut awan) sangat tebal, membuat jarak pandang pedek, jadi harus ekstra hati-hati. Langsung ngacir duluan, aku, Mas Hen, sama Bang Bengkok,mencoba nyusul mang Ichine yang udah ngacir duluan karena mau cepet-cepet cari kavling yang tepat buat bikin tenda. Sambil terus jalan sambil lari-lari kecil ketemu ama rombongan bule dari Uni Eropa kemaren, ngobrol-ngobrol lagi kami, ama Mr Smith, Ms Anabel, dll ternyata asik juga ngobrol-ngobrol ngalor ngidul ama mereka, malah Ms Anabel yang dari Holland masih bisa bahasa Indonesia meski dikit-dikit, ya maklum lah udah 6 tahun kerja di Singapore, cerita mulai dari pacar, negaranya, makanan kesukaan (ternyata urap bo. . .) yang sampe bikin dia ketagihan ya urap jogja. Ha ha .ha…, kapan-kapan kalo kre Singapore suruh telpon dia aja, tour gratis *dan terbukti, selama 4 hari di Singapore aku ditanggung dia sepenuhnya, Thanks Anna . . .). Terus jalan lagi, tak berapa lama kabut pun ilang, dan cerah kembali, tampak di bawah jalur Torean yang melewati sungai (koko) susu dari gua susu yang mengalir air panas, ada air terjun di kaki gunung sangkareang di samping kami dan tentu saja danau segara anak di depan kami yang membentang luas bak lautan, dengan Gunung Baru Jari di tengahnya yang menjulang dengan latar belakang Rinjani yang masih berselimutkan awan.
12.55 WITA sampailah kami danau segara anak, dan sudah disambut ucapan selamat datang dari anak-anak GEMPAR, anak UNRAM dan anak-anak dari Makassar, meski satu sama lain ama sekali belum kenal tapi kami langsung akrab, serasa sudah kenal lama, langsung ngobrol-ngobrol dibikinin teh, makan biscuit bareng, cerita-cerita bahkan langsung becanda ha ha hi hi meskipun kadang ngomong pake bahasa Makassar, atau bahasa Sasak yang gak paham sama sekali artinya apa, dan take a picture of course. Ya Allah lama banget tak kurasakan kehangatan seperti ini, nyaman banget rasanya . . jadi ingat ama temen-temen Kertajaya ku….
Danau Segara Anak
Jam 15.00 WITA semuanya sekarang udah ngumpul di danau, tenda dah berdiri, jadi santai-santai aja sembari minum kopi lombok dari anak-anak UNRAM dan menikmati keindahan Danau Segara Anak, Gunung Baru Jari yang terlihat gede dengan Gunung Anak Dara di sisi baratnya. Mbak Risna dan Kak Hadi tampak antusias banget milih-milih ikan yang mau dibakar nanti, pilih yang gede pastinya, sesekali cari pinjeman pancing plus minta umpan. Oh ya, umpan yang dipakai sangat unik, kalo di Jakarta mirip kue timus.Dibuat dari singkong atau ubi dikasih gula lalu dibungkus daun pisang/plastic kemudian dikukus, dan ternyata dengan umpan itu dapet ikan lumayan banyak bos . .
Gimana kalo pake umpan pellet ya?? Jangan salah, malah gak dapet ikan, ikan disana gak doyan ama umpan kaya gitu. Dasar ikan-ikan yang aneh. Konon Pak Harto pernah juga lo ngelepas ikan-ikan disana, tapi Bu Tien gak ikut, dia cukup liat di Pelawangan aja. Ikan disana didominasi oleh Karper/Kerapu, Mujaer ama Lele, jenis lain ada juga tapi tidak sebanyak ketiga jenis ini. Ikan-ikan ini juga panjang umur, bayangin aja udah dibanting-banting di tanah, kepalnya dipukul-pukul, sisik di buang, disayat-sayat mau digoreng, tapi tetep aja masih bisa ngogel-ngogel, bahkan sampai dijeburin ke minyak panas masih juga kaya gitu. Aneh kan??
Puas main-main dengan kail dan ikan saatnya untuk ambil air dan mandi, meski kami di tepi danau, kami tidak bisa ambil air dari danau buat masak, minum, bahkan gosok gigi. Kandungan belerang air danau masih tinggi. Meski tidak berbau menyengat tetep aja gak bisa diminum, kalo nekat bisa-bisa pada sakit perut nantinya.
Lokasi sumber air tidak begitu jauh, turun sekitar 300 meter dari danau sudah ada sumber air yang jernih, asli pegunungan seperti aqua dingin dari kulkas. Tidak jauh dari sumber air itu ada sumber air panas yang cukup gede, bahkan ada juga air terjun air panas yang wow, keren abis. Akhirnya kami mandi di air terjun itu, segaar banget kaya dipijit-pijit dipunggung, bisa berendam lama lagi karena sepi gak ada orang jadi bebas maen air 35 derajat celcius itu. Lagi enak-enaknya berendam sambil memejamkan mata, aku dikagetkan oleh gerakan aneh dibawah betis, bikin aku langsung tersentak kaget, mau copot jantung ini rasanya, ternyata ada ikan disana, bener-bener ikan, dan hidup pula . . Subhanallah . . di air sepanas itu ada ikan hidup?? Suguh takjub aku akan ciptaan-Mu ya Allah. Setelah tanya mang Ichine jangankan suhu segitu, wong dulu pas Gunung Baru Jari terbentuk, suhu air danau sampai 50 celcius tapi ikan-ikan masih tetep aja hidup, tambah lagi decak kagumku disana.
Kabut makin tebal dan senjapun menjelang, hawa dingin menusuk tulang, langsung aku ambil skebo dan sweater biar gak tambah dingin. Semburat lembayung senja tampak terlihat di puncak-puncak bukit, menerobos celah-celah awan yang berjalan pelan terbawa semilir angin nan lirih berhembus. Gunung Baru Jari yang semula kokoh berdiri, tampak anggun diatas air danau nan jernih, kini telah tertutup kabut. Tak tahan dingin langsung duduk di depan api unggun yang dibuat anak-anak GEMPAR, tepat di dekat tenda kami, sambil sesekali berharap langit cerah malam ini karena ada meteor rain.
Makan dan makan lagi, menu makan malam kali ini spesial banget, prencok tlah habis, daging dan tuna telah lenyap. Tapi masih ada ikan bakar dan ikan goreng yang dipesan tadi, special dengan 2 sambel khas yang wooow….. pedas booo….. banget, lombok dari Lombok emang bener-bener lombok banget, alias pudes minta ampun, Menurutku Cabe Lombok memang terpedas kedua setelah Cabe Manado dan Cabe Madagascar. Ikannya banyak, sambelnya oukey, lalapan ada, pokoknya pesta besar lah malam ini. Setelah kenyang makan, aku pengen tidur cepet, biar bisa liat meteor rain that nite. Di dalam tenda dengan flysheet yang tidak terpasang (males bukanya bung) aku meringkuk di hangatnya sleeping bag sambil dengerin orang ceramah di api ungggun, anak-anak UGR_Universitas Gunung Rinjani, meski aku gak tau pasti tuh universitas emang bener-bener eksis atau cuma istilah aja buat anak-anak yang seneng nongkrong di danau, Tapi whatever lah, denger kuliahnya aja aneh gitu bikin ketawa ketiwi sendiri, macam ceramah gitu, tapi bahasa campur aduk pake Bahasa Sasak juga yang cuma sike ngartia (ngerti sedikit maksudnya)
Akhirnya suara-suara itu tinggal sayup-sayup terdengar dan aku sudah terlelap dibuai mimpi.
11 Agustus 2007
Jam 01.00 WITA, alarm HP dengan lagu Starlights-nya Muse yang makin lama makin kenceng aja bunyinya, langsung kumatikan dan perlahan keluar tenda, berharap langit cerah agar bisa liat Meteor Rain, pertama keluar emang berkabut, tapi lama kelamaan kabut mulai menipis dan langit kembali cerah. Sekilas kulihat kilatan cahaya mirip garis lurus di angkasa, tadinya cuma satu, lalu disusul yang lain, bahkan tiap kurang 5 detik bisa kulihat kilatan cahaya meteor terbakar. Subhanllah keren banget . . .
Langit cerah tak berlangsung lama, gak nyampe setengah jam langit kembali gelap tertutup kabut yang makin lama makin tebal saja, tak tahan hawa dingin yang menusuk tulang dan jari-jemari, langsung aku masuk tenda lagi meski sebenarnya belum puas melihat hujan meteor malam itu. Tapi ya, apa boleh buat dengan sedikit kecewa aku masuk dome dan melanjutkan tidur lagi.
06.30 WITA, bangun …bangun dah siang nih, udara tetep aja dingin, kabut kok masih tebel aja, gak bisa liat sunrise deh. Jalan-jalan bentar di sekitar danau, dan ternyata rombongan Ms Anabel cs udah jalan duluan, wah sepi donk, anak-anak yang lain masih asik aja meringkuk di sleeping bag masing-masing, Yang bangun baru Mang Ichine doank ama tukang pancing ikan, yah mending aku gabung aja ama mereka, bikin teh sambil ngobrol-ngobrol,seputar Danau dan Gunung Baru Jari.
Cerita Gunung Baru Jari
Baru Jari, dalam bahasa Sasak berarti Baru Jadi, memang tadinya gunung itu belum ada saat aktivitas Gunung Rinjani padam, lalu munculah Aktifitas di tepi Danau Segara Anak (awalnya masih berupa gundukan-gundukan pasir), pada waktu itu belum ada warga ataupun wisatawan yang berani mendaki sampai ke Puncak Rinjani, bahkan untuk sampai ke Pelawangan Sembalun pun mereka tidak berani, kecuali orang-orang Hindu yang sering mengadakan upacara di sekitar Pelawangan. Wingit istilahnya, aktifitas baru terlihat setelah terjadi letusan Gunung Baru Jari tahun 1984, yang abunya menyebar sampai seantero pulau. Gunung Baru Jari yang semula hanya gundukan-gundukan pasir, lama kelamaan menjadi makin tinggi dan menjulang. Hingga tumpahan lahar menyebar ke permukaan air danau sehingga danau menjadi menyempit. Sampai saat ini Gunung Baru Jari makin tinggi, dulu awal tahun 2002 Gunungnya tidak setinggi itu, jika dilihat dari Segara Anak, bukit di pelawangan Sembalun masih terlihat, namun sekarang sudah tertutup.
Meski terlihat tenang, tanpa asap, dan seolah-olah tidak ada aktifitas lagi, namun sebenarnya aktivitas di perut gunung masih terus terjadi, jadi bisa saja sewaktu-waktu meletus.
Yang unik dari gunung ini, selain warnanya yang hitam besi berpadu merah bata juga di sisi tenggara badan gunung ini terdapat bekas letusan lahar dari samping yang bentuknya menyerupai tapak tangan kanan manusia lengkap dengan jari jemarinya, tapi karena banyak tererosi bentuk itu sudah sedikit memudar, namun tetap masih bisa terlihat jelas dari danau.
Jalur pendakian menuju gunung ini sudah ada, waktu itu perintisnya Mang Ichine juga, melewati jalur di kaki Gunung Rinjani dari arah Sembalaun Lawang, dapat juga melalui jalur selatan, melewati celah sempit diantara tebing-tebing terjal dengan ketinggian sekitar 200 meter. Saat diajakin Mang Ichine lewat jalur itu langsung aku tersentak, gludrak . . .. Takut, perlu karmantel, karabiner, dll, tapi sepertinya emang pantas dicoba sih, next time lah ya. .
Masih di Danau Segara Anak
Cuaca hari itu memang kurang begitu menyenangkan, dan tidak secerah kemarin. kabut dari semalem sampai pagi ini masih cukup tebal, bahkan Puncak Rinjani yang kemaren cerah kini tak terlihat sedikit pun. Pagi itu mencoba lagi mancing di danau, setelah kemaren melepas ikan yang ditangkap Basri (karena kurasa masih terlalu kecil ikannya jadi mending ku lepas ke danau lagi biar gede dulu), e e . . .aku malah disalahin orang sekampung gara-gara ngelepas ikan itu, ya moga aja lah mancing pagi ini bisa menebus rasa bersalah kemarin.
Ternyata mancing di pagi hari lebih bagus hasilnya, ikannya pada keluar semua kali ya pagi-pagi, nyari sarapan, ha. . ha. .ha. . joke yang garing. Dan belum nyampe 2 menit masukin kail langsung disambar, kalo lemparnya agak ketengah pasti ikannya lebih gede, dan bener juga, digulungnya pelan-pelan aja dan finally . . .nice catch man!!! Ikan yang lumayan gede, lebih gede dari yang dilepas kemaren, jadi udah dapet penebusan kali ya kesalahan kemaren. Langsung ikan dilepas dari kail, lalu ditauruh di karung yang semalem hampir dimakan babi hutan, tapi gak berapa lama di karung, ikan itu langsung digoreng bareng 9 ekor ikan lainnya plus seekor keciiilll mujaer tangkapan Kak Hadi. Hmmmm menu hari itu ikan lagi, ikan lagi deh.
Kenyang sarapan, langsung jalan turun ambil air lagi buat bekal sekalian mandi di air panas lagi, tapi kok airnya lebih panas dari kemarin ya??mana banyak monkey lagi diatas, aku malu kalo mandi diliatin gitu, jadi gak lama-lama deh. Abis mandi balik lagi ke danau. Pas nyampe sana kok banyak bule lagi?? Ternyata mereka baru turun dari Pelawangan Sembalun, katanya sih pagi ini gak ada yang bisa sampai ke Puncak Rinjani, selain angin kenceng dan dingin juga kabut tebal yang berpotensi badai, jadi mereka milih turun aja ke danau.
Alhamdulillah banget, kemaren sudah berhasil sampai puncak, thanks ya Allah. Memang benar kata orang, ada yang sampai lima kali mendaki tapi belum sekali pun dapat puncak, tapi ada yang sekali naik langsung dapat puncak. Oh My God, how lucky I am. Ngobrol-ngobrol bentar ama mereka plus rombongan Indonesia dari Mataram, ya ngobrolnya sambil packing barang, soalnya menurut jadwal jam 13.00 WITA dah harus berangkat, biar sampai Senaru sebelum tengah malam, jadi gak perlu nge-camp lagi.
Perjalanan Menuju Pelawangan Senaru
Jam Casiodi lengan kiri sudah menunjukkan pukul 12.45 Local Time Zone GMT +8 (WITA), saatnya berangkat, tapi sebelum itu tetep ya foto-foto dulu, foto full team juga, karena selama ini fotonya sendiri-sendiri mulu.
Setelah berdoa bersama, jam 13.00 WITA berangkat menuju pelawangan Senaru, rute awal menyusuri tepian danau sampai mentok punggungan bukit, baru jalan menanjak yang cukup terjal hingga ngos-ngosan dibuatnya, melewati kali mati, hutan pinus dan jalan bebatuan mirip tangga, perjalanan menuju pelawangan Senaru serasa meniti ribuan anaka tangga tanpa ujung, naik, naik dan naik terus sampai akhirnya montok di puncak semu, di Batu Ceper. Kami istirahat lama disini ambil makan sisa-sisa coklat, permen, nutrisari atau apa lah yang ada, termasuk gula jawa + asam yang dibawa Basri, ternyata cukup enak, dinikmati sambil bikin joke-joke yang menyegarkan biar tambah fun karena perjalanan masih sangat panjang. 30 menit istirahat sudah cukup lah, perjalanan dilanjutkan dengan medan yang gak jauh beda tetap menanjak trus, sesekali kutengok ke belakang tampak Danau Segara Anak yang kehijauan masih tertutup kabut meski kadang tersibak malu-malu lalu tertutup lagi, bahkan Puncak Rinjani sama sekali tertutup kabut nan tebal bak mantel dari bulu domba. Terus dan terus berjalan menuju Pelawangan, sampai akhirnya sampai di Batu-Batu mirip gua, dan akhirnya harus memanjat dengan tali karena harus melewati tebing dengan elevasi 90 derajat, bener-bener tegak kaya tembok. menuju Puncak Pelawangan, dan jam 16.00 WITA sampailah di Pelawangan Senaru, break dulu bos, makan biscuit plus agar-agar yang dibuat tadi pagi, sambil melihat pemandangan sekeliling yang hanya putih awan terlihat disana sini. Padahal jika sedang cerah pemandangan disini sangat indah, betul-betul indah, saking penasarannya dengan pemandangan ini banyak banget bule dari Spanyol, Perancis, Belgia dll yang nge-camp disini agar bisa melihat keindahan itu keesokan paginya.
Menuju Senaru, bule lagi bule lagi
Jam 16.30 WITA, saatnya berangkat lagi menuju Senaru, jalanan menuju Senaru menuruni bukit dengan titik-titik es yang mencair di ujung-ujung cemara dan ilalang, terus menuruni bukit menuju hutan senaru yang lebat, awan yang terkulminasi membentuk titik-titik embun yang lebih menyerupai es daripada air, sepanjang jalan masih aja ketemu bule dari Singapore dan tak berjarak lama ketemu bule lagi dari Portugal, yang terakhir ini tampak sangat kecapekan_terutama yang cewek, ngobrol dengan orang Portugal ini asik juga, selain orangnya lucu, gampang diajak becanda, aksen inggrisnya juga aneh.
Saya sempat heran, kok ketemunya bule mulu, ternyata kata Mang Ichine memang mayoritas pendaki hampir 75 % adalah bule, terutama dari Amrik dan Eropa (khususnya Perancis dan Jerman), ternyata di Eropa sana Gunung ini sangat terkenal, bahkan dulu pernah ada film Perancis yang salah satu scene-nya mengambil lokasi di sepanjar jalur pendakian ini. Nah lo,yang punya negeri aja malah kalah kan??
17.30 WITA Sampai di POS III, ternyata di sini ada 15 orang dari Jerman dan Belanda yang bikin Camp disini, yah mumpung ada temennya sekalian kami istirahat sambil mengeluarkan bekal kami, termasuk ikan goreng dari danau yang masih menyisakan eman biji, kornet, abon serta bikin makanan-makanan yang instan aja macam mie dan nasgor instant. Sambil ngobrol-ngorol ama mereka. Disini aku dapat kenalan ama cewek Jerman, Cristy, dia sudah 8 kali dating ke Lombok, selain Lombok dia juga sudah ke Toba, Toraja, Papua, Jogja, dll, tapi katanya sih paling seneng di Lombok. Ngobrol ama dia asik banget, sampe-sampe dia bela-belain diet buat ngirit duit biar bisa sering-sering maen ke Indonesia. Maklum saja, buat tiket pesawat dari Berlin-Taipe-Bali-Mataram PP butuh US $ 900 (by China Airlines). Sambil praktek Bahasa Jerman yang dulu sempat dapet di SMA 2 tahun, meski sekarang dah banyak yang lupa, setidaknya aku masih ingat lah wie gets du es ihnen?(gimana kabar anda?), tapi Bahasa Inggrisnya bagus kok, malah Bahasa Indonesia lumayan lancar juga jadi kalo kepentok ya pake Inggris/Indonesia. Ternyata doi juga jago selam, dan rela menjadi buddy ku di Raja Ampat. hehehe
Setelah makan duduk-duduk didahan pohon dan aku kaget, kayanya punggungku disengat sesuatu, panas banget rasanya, kaya disengat lebah dan bisanya langsung menyebar, udah takut aja kirain digigit ular, ternyata aku kena daun jelatang (sejenis pohon penyengat, sengatannya sangat hebat, tapi tidak menimbulkan kematian, hanya sakit yang luar bisa tapi gak sampai sejam juga udah ilang) Tak berapa lama ku heboh, Kak Hadi kena juga di pahanya pas mau pipis,ha. Ha..ha.. untung Cuma kena paha,bukan kena ***nya, kalau kena yang itu bisa berabe tuh . . .
18.20 WITA semua senter dikeluarkan dan siap berangkat lagi, melewati lebatnya hutan Senaru, dan licinnya medan karena hutan itu hai diguyur hujan deras. Saking licinnya ampe-ampe aku jatuh mulu, apalagi Ilham, Kak Hadi dan Mbak Risna, gobrak-gabruk kaya bocah lagi belajar jalan. Saking seringnya jatuh, rain coatku sampai robek. 19.54 WITA Sampai di POS II, istirahat bentar sambil minum dan menghela nafas. Kelompok kami jadi makin banyak karena ada tambahan 6 orang penduduk local yang nebeng kami karena senter mereka pada mati, jadinya kami harus jalan selang-seling antara yang bawa senter ama yang gak bawa, biar semua bisa terang dan lancar.
20.22 WITA berangkat lagi melanjutkan perjalanan yang kira-kira masih sekitar 4,5 km menuju pintu taman nasional yang merupakan batas hutan dengan kampung penduduk. Jam 21.25 WITA sampai di POS I, yang dekat dengan beringin 3, yaitu 3 pohon beringin yang ranting dan dahannya jadi satu, konon tempat ini cukup angker,jadi jangan lam-lama di POS I ini, apalagi sampai nge-camp, jangan ya. Pos I terkenal dengan anam Pos Mayat, karena seringnya kalo evakuasi jenazah dari atas, selalu istirahat di Pos ini. Karena belum lama kami duduk diatas kami, tepatnya diatas atap POS seperti didobrak gitu dari atas, brak .. . brak . . kenceng banget, tau isyarat itu akhirnya gak sampe 15 menit istirahat langsung jalan lagi, dan sampai di KM 0 (batas vegetasi) jam 23.00 WITA. dideket pos ada warung yang masih cukup ramai karena banyak yang nge-camp disana terutama yang mau naik, karena gak mau nge-camp di Hutan Senaru. Karena kelaparan langsung deh pesen makan, karena gak ada lauk maka si empunya warung langsung nangkap ayam dan langsung disembelih jam itu juga buat makan kami.
Nih perut kayanya gak sabar nih nunggu ayam mateng, keburu kelaparan, jadinya makan apa aja yang ada, mulai dari pisang, gery, tic tac, kerupuk, kue bantal (pisang disalut ketan, dibungkus daun pisang lalu dikukus) Tak lupa minum Coca Cola . . ah . ..segar bung. Setelah tenda berdiri tiduran dulu di dalam tenda sambil nunggu ayamnya mateng. Kaki ini rasanya pegel banget jadinya pas direbahin rasanya enak banget.
12 Agustus 2007
00.30 WITA, setelah ayam mateng, langsung disantap tanpa basa basi, abis itu langsung tidur lagi . .
07.00 WITA, bangun tidur segar banget rasanya, tapi upss. . . kesiangan buat shalat subuh. Langsung aja aku cuci muka gosok gigi, wudlu, shalat lalu pesen kopi susu dan mie rebus buat sarapan. Abis sarapan packing, tapi packing kali ini cepet karena barang yang dileluarin Cuma dikit jadi packing ulangnya gak repot.
Setelah itung-itungan makan kemarin dengan yang punya warung, kami langsung turun ke Senaru jam 09.00 WITA. Perjalan dari pintu masuk taman nasional ke base camp melewati perkampungan Sasak dan perkebunan pembibitan gaharu serta pohon pisang dimana-mana. 09.45 WITA sampailah di Senaru, istirahat sekaligus laporan check out ke balai taman nasional. Ada sedikit masalah disini, Mbak Risna lupa naruh surat registrasi dari pos Sembalun kemarin, terjadilah perdebatan antara Mbak Risna dan penjaga Taman Nasional, setelah dicari-cari ternyata ketemu juga di tempat handycam Kak Hadi, fyuuuuh….. untunglah, daripada harus bayar penalti lagi, 100 ribu.
Setelah check out beres langsung turun ke parkir di depan guest house, masukkin Cariel ke dalam mobil, dan jalan-jalan dulu di perkampugnan Suku Sasak dikawal Bang Bengkok yang juga merupakan suku sasak asli jadi dapat banyak banget penjelasan dari dia tentang kebudayaan suku sasak, mulai dari urutan rumah berdasarkan urutan keluarga dan silsilah, penempatan rumah ternak, sumur, lumbung, dll. Pokoknya menarik banget mendengar dan meliatnya secara langsung. Puas jalan-jalan di perkampungan sasak deh .Cuma kok pas kami datang gak ada yang bikin kain tenun ya?? Padahal kan pengen melihat proses pembuatannya langsung.
11.00 WITA berangkat menuju Mataram melalui jalur pantai utara Lombok, melewati hutan-hutan dengan banyak banget monkey di pinggir jalan, menunggu dikasih makanan para pengendara mobil/motor yang melintas, sementara di bawahnya terhampar luas pantai nan indah, dengan air laut nan jernih, dan ombak yang kecil. Mobil melaju kencang menuju Kota Mataram, sungguh pemandangan yang mempesona. Sampai di Mataram jam 13.15 WITA, langsung menuju Kantor Jatatour, di sebelah Mataram Plaza buat reservasi tiket untuk keberangkatan keesokan harinya. Ternyata Direct Flight ke Jakarta sudah habis, tinggal kelas bisnis Garuda punya, Wooow tentu tidak, mending ikut yang transit aja, akhirnya dapat yang Lion Air transit Juanda. Parahnya lagi flight dari Selaparang ke Jogja sudah gak ada lagi, jadi Kak Hadi dan Mas Wisnu harus naik Pesawat yang sama bareng kami ke Surabaya, kemudian nyambung kereta api ke Jogja.
Setelah dapat tiket lega rasanya (meski duit jadi terkuras. Hi hi hi….), tapi laper nih perut dari pagi Cuma makan mie doang, langsung deh cari info tempat makan yang enak, dan ternyata ada di Jl Cakranegara Timur, namanya “Rumah Makan Taliwang”, katanya disini menyediakan menu ayam taliwang yang paling enak di Mataram, dan ternyata terbukti, ayamnya benar-benar mak nyussss, kalo Pak Bondan bilang, Pelencing kangkungnya juga uenak tenan, belum lagi pudding nanasnya yang segar dan es coco pandan asli (terbuat dari daging kelapa muda, air kelapa ditambah sirup rasa pandan plus sedikit asam dari nanas), bener-bener makan besar pokoknya dah . . .
Saatnya Berpisah
Jam 15.00 WITA berangkat ke Selong, mengantar Bang Bengkok ke Masbagik dan Mang Ichine ke Selong sekalian ambil barang-barang yang kemarin dititipin di rumah Mang Ichine. Jam 15.45 WITA sampailah di Masbagik, saatnya berpisah dengan Bang Bengkok, jam 16.10 WITA sampailah di Rumah Mang Ichine di Selong, bersih-bersih, shalat lalu makan es kacang ijo made by maminya Mang Ichine, sampai aku abis tiga. He he he… abis itu nunggu Bang Ebet Mandi,, trus minta mangga di kebun belakang dan pamit Mang Ichine sekeluarga karena kami akan menginap di Senggigi. Da …da . . . . Mang Ichine semoga kami bisa maen ke Selong lagi lain waktu.
17.05 WITA berangkat menuju Mataram, tak lupa mampir ke Masbagik buat beli nanas karena nanas disini manis-manis, dan betapa tercengang aku tau harga nanasnya berapa?? Untuk seplastik nanas kupas siap makan berisi 4 buah nanas seharga seribu rupiah saja, luar bisaa. . ., padahal nanasnya manis dan segar, sampai –sampai lidahku gatal gara-gara kebanyakan makan nanas.
Sepanjang jalan sangat ramai sekali, bukan hanya karena menjelang acara 17 Agustus, tapi juga sedang banyaknya acara adat Gendang Beleg, upacara pernikahan ala lombok, yaitu mengantarkan kedua mempelai ke rumah pihak perempuan, karena kalau di Lombok pernikahan dilangsungkan di rumah pihak pria. Iring-ingirangna mobil dengan iringan musik Gendang Beleg serta pihak keluarga pengiring mereka, dengan warna dominasi kuning dan memakai kain khas Sasak.
18.28 WITA sampailah di Mataram lagi, langsung berburu oleh-oleh di Jalan Cilinaya, tepatnya sebelah Plaza Mataram. Disana banyak dijajakan oleh-oleh khas Lombok, mulai dari dodol nanas, dodol rumput laut, gelang, songket, hingga mutiara dan miniature rumah adat sasak. Setelah puas belanja oleh-oleh langsung melanjutkan perjalanan ke Senggigi.
Senggigi Beach
Dari Mataram menuju Senggigi beach tidaklah terlalu jauh, kira-kira 35 menit perjalanan saja.Tapi kok laper lagi ya?? Pengen bakso nih, akhirnya beli bakso dulu di Mataram, bakso yang sangat enak, bahkan kami pun nambah lagi dan nambah lagi, habis gimana ya selain baksonya yang enak lapar juga nih perut.jadi gak pa pa lah ya makan banyak, kayanya ada yang salah nih, abis turun gunung rasanya pengen makan mulu, heran juga aku.
Jam 20.15 WITA sampailah di Senggigi Beach, suasana yang mirip Kuta Bali, dengan jajaran pizzeria, café, dan hotel. Tapi belum dapet hotel juga bos. . gimana nih??
Akhirnya jam 20.30 WITA dapet hotel yang cukup elegant di sana, fasilitas yang enak, lokasi di bukit dengan kamar-kamar terpisah dan view yang cukup asik, langsung menghadap ke laut jadi . . . keren abis lah.
Malam ini katanya Mas Anom dan Mas Wahyu mau ngajak jalan, tapi udah malam gini, emang mau kemana ya?? Sambil nunggu mereka datang kami giliran mandi, karena kami kamarnya suite room dengan double bed ukuran gede jadi muat buat ber-4 sekamar. Setelah selesai mandi ngobrol-ngobrol sambil tiduran nunggu Mas Anom.
21.45 WITA Mas Anom dan Mas Wahyu datang, mereka ngajakin jalan keluar, makan-makan aja sambil ngobrol di Alberto’s Pizzeria, lokasi yang sangat enak buat dinner, feel-nya dapet banget, lokasinya mirip di Jimbaran Bali, mirip banget, Cuma suara deburan ombak tidak sekenceng di Jimbaran dan gak serame Jimbaran, jadi kalo mau dua-duana asik banget di sini. Menu makanan beraneka ragam, tapi makanan Eropa semua, gak ada yang Asia dengan harga yang mahal-mahal gitu, mau pesen aneh-aneh juga gak enak ama yang traktir, jadi pesennya ya Cuma coffee esprsso, Jus, French fries, pizza, bubur, sup dan semacamnya lah.
Ternyata tanpa kami sadari Pejabat Eselon II Nusa Tenggara makan juga disana, gludrak . . jadi gak enak sendiri malahan, untungnya mereka Cuma gabung ama kami bentar, kenalan, ngobrol-ngobrol trus langsung balik. Akhirnya, bebas juga kami ngobrol sampe pizzeria tutup.
23.35 WITA sampai di Hotel, langsung tidur, meski banyak sms katanya malam itu meteor rain lebih dahsyat dari kemarin, malam ini puncaknya. Tapi apalah daya mendung menggantung diatas Senggigi Beach, boro-boro meteor rain, wong bintang aja gak ada yang kelihatan, jadi terus tidur deh . . .
13 Agustus 2007
06.30 WITA, bangun tidur, langsung shalat, antri mandi dan nonton TV dulu liat berita sabotase kereta anjlok di Grobogan. 07.15 WITA ready for breakfast, langsung turun ke restaurant, sarapan roti bakar selai campur, jus jeruk segar, secangkir coffee cream, dan tak lupa telur dadar yang hangat serta buah-buahan yang segar. Ampe Mbak Risna nyeletuk “Aduh sarapannya banyak amat dek??” “Biarin aja deh, namanya juga gratis, dimakan semua juga gak pa pa” sahutku.
08.05 WITA selesai sarapan langsung ke pantai, dan Subhanallah . . pantai yang sangat indah, pasir putih nan terhampar luas, laut yang biru bersih, langit yang cerah, dan suasana pantai yang tenang dan bersih, tak ada sampah sedikit pun. Yang ada cuma nelayan, pedagang pantai keliling dan bule-bule yang pada berjemur gak jelas gitu.
Jalan-jalan menyusuri pantai sampai sandalku ilang pun aku tak sadar, waduh dasar pikun. Saking asiknya di pantai sampai-sampai baru sadar udah jam 10.30, waduh padahal kami sudah jalan cukup jauh dari pantai awal punya Sheraton, kalo balik jalan lagi jauh banget, jadi mending keluar lewat jalan trus naik angkot deh sampai ke hotel. Jam 10.55 WITA sampai di hotel, langsung packing dan antri mandi lagi karena badan lengket semua kena air laut.
Setelah Packing udah sip,dan dipastikan tak ada barang yang ketinggalan, akhirnya jam 12.05 WITA check out dari hoel dan langsung ke Bandara Selaparang by taxi, dan ternyata nih, taxi disana lebih murah dari TL di Jakarta, padahal taxi disana bluebird lho, tariff awal Cuma 3850, per km kena 1800, jadi dari Senggigi ke bandara gak nyampe 40 ribu. Murah kan??jam 12.25 WITA sampai di bandara dan langsung check in karena jadwal boarding jam 12.50 WITA, tapi bukan Indonesia namanya kalau gak ada delay, pesawat delay sampe jam 13.20 WITA, jadi masih ada waktu buat makan lagi di bandara, maklum dari pantai kan panas, jadi wajar kan kalau lapar, makan nasi goreng special pake telur, sampai ada panggilan boarding, baru masuk pesawat jam 13.20 WITA, dan take off menuju Surabaya jam 13.35 WITA, Sampai di Surabaya jam 13.25 WIB, langsung ambil tiket transit, trus nganterin Kak Hadi dan Mas Wisnu, sambil jalan-jalan di bandara dan cari makanan khas bandara, apalagi kalu bukan Roti boy yang lezat, apalagi dimakan sambil minum milo hangat, wah nikmat banget rasanya.
Abis nganter Kak Hadi, langsung ke ruang tunggu lagi, dan jam 14.45 WIB pesawat take off menuju Jakarta dan sampai di Cengkareng jam 16.05 WIB, langsung ambil bagasi and naik taxi karena badan dah cape semua, pegel-pegel. Jam 16.35 WIB naik taxi langsung menuju Tebet, Alhamduliullah jalanan gak macet, paling macet bentar doang karena pas barengan jam pulang kantor.. Sampe rumah Mbak Risna di Tebet jam 17.25 WIB, turunin Mbak Risna Pamitan trus langsung menuju Pangkalan jati, jam 18.15 sampailah di rumah, agak lama karena macet di Kalimalang, tepatnya di deapan BPK Penabur, ya wajar lah ya pada jemput anaknya pulang sekolah.
26 Juli 2008
Gawat . . .sudah jam 6:30, panggilan tak terjawab di HP udah bertumpuk-tumpuk, dari Khanif dan Nisa . . maaf teman, aku kesiangan. Tapi gak papa lah, udah packing semalem, ayo kita berangkat menuju Rinjani untuk yang kedua kalinya, sepuluh hari di Lombok, pastinya selain Rinjani juga bakal ngubek-ubuk Lombok dari Timur ke Barat dan Utara ke Selatan.
Jam 10:10 WIB, terdengar panggilan di termianal 2F “mohon perhatian, kepada para penumpang GA 452 tujuan Ampenan dapat masuk ke kabin pesawat melalui pintu G7”
Rinjani . . here I come (again) .To be continuted . . .